Tag: kuliner enak

Fakta Menarik Tentang Makanan Korea yang Kini Mendunia dan Banyak Peminatnya

Gelombang budaya Korea atau yang lebih dikenal Korean Wave tidak hanya merambah di dunia hiburan lohh. Tetapi juga berhasil menaklukkan selera masyarakat global melalui kulinernya. Makanan Korea kini tak lagi asing di berbagai negara, termasuk juga Indonesia. Dengan hidangan seperti kimchi, tteokbokki, hingga ayam goreng Korea yang digemari berbagai kalangan. Di balik rasa khasnya yang pedas dan kaya akan bumbu, terdapat berbagai fakta menarik yang membuat makanan korea semakin dikenal dan diminati di seluruh dunia. Berikut adalah Fakta Menarik Tentang Makanan Korea yang Kini Mendunia dan Banyak Peminatnya.

 

Kimchi Itu Bukan Hanya 1 Jenis!

Tahukah kamu ada fakta menarik dan cukup mengejutkan tentang kimchi? Makanan fermentasi khas Korea yang mendunia ini ternyata nggak cuma terdiri dari satu jenis saja. Faktanya, ada ratusan jenis kimchi yang berbeda di Korea, masing-masing dengan variasi rasa, tekstur, dan bahan yang unik.

Setiap daerah di Korea bahkan punya versi kimchi-nya sendiri, menyesuaikan dengan bahan lokal dan tradisi setempat. Ada kimchi yang dibuat dengan lobak, timun, hingga yang tidak pedas sama sekali. Jadi, nggak heran kalau bentuk dan rasanya bisa sangat beragam—dari yang super pedas sampai yang rasanya ringan dan segar. Menarik banget, kan? Semakin banyak kamu tahu tentang kimchi, semakin kamu bisa menghargai kekayaan budaya kuliner Korea yang luar biasa.

 

Sup Rumput Laut adalah Sup Ulang Tahun Tradisional

Miyeok-guk, atau sup rumput laut, adalah hidangan tradisional Korea yang biasanya disantap saat sarapan, terutama pada hari ulang tahun. Sup ini bukan sekadar makanan—ia punya makna simbolis yang mendalam. Miyeok-guk melambangkan rasa syukur dan penghormatan kepada ibu, sekaligus menjadi bentuk peringatan atas perjuangan seorang ibu saat melahirkan.

Terbuat dari rumput laut kering yang direhidrasi, sup ini dimasak dengan kaldu bening dan dilengkapi dengan pilihan protein seperti daging sapi atau makanan laut, tergantung selera dan kebiasaan keluarga. Kandungan gizi dalam rumput laut, terutama yodium dan kalsium, membuat miyeok-guk juga kerap disajikan kepada ibu yang baru melahirkan untuk membantu pemulihan pasca persalinan.

Tak heran jika miyeok-guk bukan hanya makanan, tapi juga simbol cinta, kehidupan, dan penghormatan dalam budaya Korea.

 

Bawang Putih Disukai oleh Orang Korea

Bawang putih adalah salah satu bahan utama yang tak terpisahkan dari masakan Korea. Hampir semua hidangan menggunakan bawang putih sebagai bumbu dasar karena aromanya yang kuat dan kemampuannya memperkaya cita rasa. Tak hanya dimasak, bawang putih juga kerap disajikan mentah atau dipanggang sebagai pelengkap dalam berbagai hidangan, seperti samgyeopsal (daging panggang ala Korea).

Perannya yang penting menjadikan bawang putih bukan sekadar bumbu, tetapi bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner Korea itu sendiri.

BACA JUGA: Mengapa Banyak Orang Menyukai Makanan Italia? Ini Alasannya

Restoran dengan Menu Internasional Terbaik di Jakarta yang Wajib Kamu Cobain

Jakarta bukan hanya soal nasi goreng dan sate, kota ini juga menjadi panggung bagi cita rasa dunia! Mulai dari sushi Jepang yang autentik hingga pasta Italia dengan sentuhan modern, Jakarta dipenuhi restoran internasional yang tak kalah menarik dari kota-kota kuliner dunia lainnya. Namun, di antara puluhan pilihan tersebut, ada beberapa yang benar-benar layak masuk daftar kunjungan. Bukan sekadar tempat makan biasa, melainkan pengalaman kuliner yang menggugah selera dan membuatmu ingin kembali lagi.

Siapkan selera petualangmu! Di artikel ini, kamu akan menemukan deretan restoran internasional terbaik di Jakarta yang wajib dicoba

 

Amuz Gourmet Restaurant

Amuz Gourmet Restaurant adalah salah satu restoran fine dining Prancis paling bergengsi di Jakarta, berlokasi di lantai dua The Energy Building, Lot 11A, kawasan SCBD. Restoran ini menyajikan hidangan Prancis modern dengan sentuhan klasik, dalam suasana elegan yang hangat dan romantis. Dipimpin oleh Chef Gilles Marx, pendiri sekaligus koki eksekutif, Amuz dikenal akan hidangannya yang otentik dan berpresentasi artistik. Setiap menu dirancang dengan cita rasa tinggi, menghadirkan pengalaman gastronomi yang istimewa.

Suasana intim, pencahayaan hangat, pelayanan profesional, dan koleksi anggur yang lengkap menjadikan Amuz pilihan sempurna untuk merayakan momen spesial, termasuk malam Tahun Baru. Bagi pencinta kuliner mewah, Amuz menjanjikan pengalaman bersantap yang tak terlupakan di jantung ibu kota.

 

Sofia di The Gunawarman

Sofia at The Gunawarman adalah restoran western bergaya klasik yang berlokasi di Jakarta Selatan, tepatnya di lantai bawah hotel mewah The Gunawarman. Mengusung desain interior bergaya Eropa yang elegan, restoran ini menghadirkan nuansa mewah yang selaras dengan atmosfer hotelnya.

Menu andalan yang layak dicoba adalah ikan kakap putih panggang yang disajikan dengan baby roast potato, krim bayam, dan sentuhan lemon segar. Kombinasi rasa yang lembut, segar, dan memuaskan. Berkat ruangannya yang luas dan atmosfer eksklusif, Sofia sering dipilih sebagai lokasi untuk acara-acara privat dan pertemuan keluarga. Cocok untuk makan malam santai, perayaan spesial, atau kumpul-kumpul bergaya.

 

J.Sparrow’s Bar & Grill

J. Sparrow’s Bar & Grill adalah restoran western dengan spesialisasi seafood yang berlokasi di dalam Noble House, Kuningan, Jakarta Selatan. Mengusung arsitektur Eropa modern dengan nuansa laut, restoran ini menghadirkan pengalaman bersantap yang segar dan elegan — sejalan dengan fokus utamanya pada hidangan laut berkualitas.

Salah satu menu andalan yang wajib dicoba adalah udang cajun panggang dengan mentega asap, disajikan bersama jagung bakar, nanas, salad kol, selada segar, serta saus Perl-Perl dan lemon mentega. Kombinasi rasa gurih, manis, dan segar membuat hidangan ini jadi favorit banyak pengunjung. Suasana restoran semakin hidup di malam hari berkat penampilan live music yang rutin diadakan. Karena popularitasnya, terutama saat jam makan malam, reservasi sangat disarankan sebelum berkunjung.

BACA JUGA: Makanan Jepang vs Korea: Makanan Mana yang Lebih Populer di Indonesia?

Makanan Jepang vs Korea: Makanan Mana yang Lebih Populer di Indonesia?

Dalam beberapa tahun terakhir, lidah masyarakat Indonesia diajak menjelajahi cita rasa dari dua raksasa kuliner Asia Timur: Jepang dan Korea. Dari sushi dan ramen yang mudah dijumpai di mall, hingga tteokbokki dan ayam goreng Korea yang viral di media sosial. Kedua makanan sukses mencuri perhatian dan menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: mana yang sebenarnya lebih populer di Indonesia — makanan Jepang atau Korea? Dalam kesempatan ini, kita akan menelusuri pengaruh budaya pop, tren konsumsi. Dan preferensi rasa masyarakat Indonesia terhadap dua kuliner yang kini tengah naik daun.

Makanan Jepang

Makanan Jepang sering diasosiasikan dengan hidangan mentah seperti sushi dan sashimi. Namun kini pilihan kulinernya jauh lebih beragam dan semakin mudah diterima lidah lokal. Salah satu contohnya adalah ramen, baik versi autentik di restoran maupun versi instan yang praktis, keduanya kini sangat populer di Indonesia.

Restoran Jepang pun semakin mudah ditemukan, terutama di pusat perbelanjaan besar di Jakarta dan kota-kota lainnya. Dari izakaya santai hingga fine dining mewah, kehadiran tempat-tempat ini menunjukkan betapa kuliner Jepang telah menjadi bagian dari gaya hidup urban.

Tak hanya soal rasa, makanan Jepang juga dikenal akan presentasi dan kreativitasnya. Salah satu contohnya adalah bento, kotak makan khas Jepang yang kerap disusun menyerupai karakter lucu. Bentuknya yang menarik menjadikan bento bukan hanya makanan, tapi juga karya seni yang menggemaskan. Mulai dari rasa yang lezat hingga tampilan yang estetis, tak heran jika kuliner Jepang terus mendapat tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia.

Makanan Korea

Kuliner khas Korea dikenal dengan cita rasa pedas yang kuat dan menggoda. Kamu mungkin sudah familiar dengan Samyang atau tteokbokki, dua makanan yang sering viral dan digemari di Indonesia. Menariknya, jika kamu makan di restoran Korea, tingkat kepedasan saus tteokbokki biasanya bisa disesuaikan dengan selera — mulai dari yang ringan hingga super pedas.

Meski Jepang dan Korea bertetangga, keduanya memiliki budaya dan kebiasaan makan yang sangat berbeda. Jepang cenderung menyukai hidangan segar dan ringan, sementara Korea lebih berani dalam menggunakan bumbu, terutama yang pedas dan fermentasi.

Jadi, kalau bicara soal selera: kamu tim rasa segar ala Jepang, atau tim pedas menggigit khas Korea? Dari rata rata orang di Indonesia mungkin akan kebingungan, tapi kalo dari mimin sih tentu Jepang yaa!

BACA JUGA: Fakta Menarik Tentang Makanan Korea yang Kini Mendunia dan Banyak Peminatnya

Rekomendasi Tempat Makan Favorit Warga Lokal Di Jakarta Yang Jarang Turis Ketahui

Sudah puas keliling tempat makan populer, tapi masih penasaran dengan cita rasa lokal yang asli dan belum terjamah turis? Kalau iya, kamu nggak sendirian nih! Di balik deretan restoran hits yang dipenuhi wisatawan, tersembunyi sejumlah tempat makan favorit warga lokal. Tempat-tempat yang menyuguhkan rasa autentik dan pengalaman kuliner yang sebenarnya. Sayangnya, spot-spot ini sering luput dari radar para pelancong.

Nah, melalui artikel ini, kamu akan diajak menjelajahi rekomendasi kuliner khas pilihan warga lokal: mulai dari warung legendaris dengan resep turun-temurun, hingga kafe kekinian yang baru buka tapi langsung jadi tempat nongkrong andalan penduduk setempat.

Nasi Uduk Kebon Kacang

Nasi uduk adalah salah satu kuliner khas Jakarta yang paling digemari. Salah satu tempat legendaris untuk menikmatinya adalah Nasi Uduk Kebon Kacang. Yang sudah dikenal luas akan cita rasa autentik dan konsistensinya selama bertahun-tahun.

Nasi gurih yang dimasak dengan santan dan rempah pilihan ini disajikan bersama beragam lauk. Seperti ayam goreng renyah, tahu, tempe, bihun, serta sambal pedas yang menggugah selera. Kombinasi rasa yang kaya dan aroma yang harum menjadikan seporsi nasi uduk di sini sulit dilupakan.

Menjelang malam, kawasan Kebon Kacang mulai dipadati pengunjung dan dipenuhi aroma masakan yang khas, menciptakan suasana kuliner malam Jakarta yang hangat dan meriah. Jika kamu mencari cita rasa lokal yang otentik, Nasi Uduk Kebon Kacang adalah destinasi yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Ibu Kota.

Gultik Blok M

Gultik, singkatan dari “gulai tikungan,” adalah salah satu kuliner kaki lima ikonik yang berasal dari kawasan Blok M, Jakarta. Sesuai namanya, jajanan ini banyak ditemukan di tikungan jalan. Terutama saat malam hari, dan dikenal sebagai pilihan makanan murah meriah dengan rasa yang menggoda. Salah satu spot yang paling direkomendasikan adalah Gultik Blok M di Jalan Barito I No. 19/4, hanya sekitar 2,7 km dari Veranda Hotel Pakubuwono. Lokasinya yang strategis dan suasananya yang khas menjadikannya favorit warga lokal maupun wisatawan.

Satu porsi gultik terdiri dari nasi putih hangat yang disiram kuah gulai sapi kental dan gurih, lengkap dengan potongan daging sapi yang empuk. Yang menarik, hidangan ini dijual mulai dari Rp10.000-an saja — cocok untuk kamu yang ingin makan enak tanpa menguras dompet. Rasanya yang lezat dan atmosfer jalanan Jakarta yang hidup menjadikan gultik sebagai pengalaman kuliner yang wajib dicoba, terutama saat malam hari.

Bubur Ayam Barito H. Agus

Kalau biasanya bubur ayam identik dengan menu sarapan, Bubur Ayam Barito H. Agus justru hadir di sore hingga malam hari, mulai pukul 16.30 hingga 23.30 WIB. Bubur ini terkenal dengan teksturnya yang kental dan topping unik berupa cheese stick. Inovasi yang sudah menjadi ciri khas sejak dulu dan belum tergantikan. Dalam satu porsinya, bubur disajikan lengkap dengan suwiran ayam, kacang, cakwe, serta tambahan bumbu yang memperkaya rasa.

Lokasinya berada di Jalan Gandaria Tengah III, Kebayoran Baru, hanya sekitar 2,4 km dari Veranda Hotel Pakubuwono — cocok untuk kamu yang ingin mencicipi bubur legendaris Jakarta di luar jam sarapan.

BACA JUGA: Restoran dengan Menu Internasional Terbaik di Jakarta yang Wajib Kamu Cobain

Gandum, Beras, Jagung: Makanan Pokok Dunia dalam Perspektif Budaya

Setiap hari, tanpa kita sadari, pilihan makanan pokok yang kita konsumsi mencerminkan lebih dari sekadar kebutuhan perut. Ia adalah cerminan sejarah, alam, dan budaya sebuah masyarakat. Di berbagai belahan dunia, gandum, beras, dan jagung bukan hanya sumber energi—mereka juga menjadi bagian penting dari identitas, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari roti di Timur Tengah dan Eropa, nasi di Asia, hingga tortilla di Amerika Latin, tiga bahan pokok ini tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga membentuk cara hidup dan selera dalam perspektif budaya yang beragam.

 

Gandum

Di Indonesia, gandum lebih dikenal sebagai bahan olahan roti dan makanan sampingan. Namun di negara-negara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, India, dan Prancis—yang juga merupakan produsen terbesar—gandum justru menjadi makanan pokok sekaligus bagian penting dari budaya pangan mereka.

Tanaman ini berasal dari kawasan Timur Tengah, tepatnya wilayah Mesopotamia Kuno (kini Irak). Gandum diyakini sebagai tanaman budidaya pertama dalam sejarah, yang mendorong berkembangnya pertanian dan peradaban manusia. Ia tumbuh subur di daerah beriklim sedang, bahkan di wilayah dengan musim tanam pendek.

Gandum biasanya dikeringkan dan dihaluskan menjadi tepung, lalu diolah menjadi roti, pasta, kerupuk, mie, kue, hingga sereal sarapan. Selain itu, gandum juga bisa diolah menjadi bulgur—bahan bergizi tinggi yang populer dalam hidangan Timur Tengah seperti sup dan kue kering.

 

Beras

Padi—atau beras saat telah dipanen dan diolah—merupakan salah satu tanaman pangan paling penting dan luas dibudidayakan di dunia, khususnya di Asia. Sekitar 90% dari produksi beras global berasal dari kawasan ini, dengan Tiongkok dan India sebagai dua produsen terbesar.

Beras menjadi makanan pokok bagi lebih dari setengah populasi dunia, termasuk di negara-negara seperti:

  • Indonesia
    Di Indonesia, beras adalah makanan utama yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk setiap hari. Padi ditanam di berbagai daerah, dari sawah basah di Bali hingga lahan tidur yang diolah kembali di Sumatra.

  • Thailand
    Thailand dikenal sebagai salah satu eksportir beras terbesar di dunia, dengan beras jasmine yang terkenal karena aroma dan teksturnya. Beras memegang peranan penting dalam budaya makan masyarakat Thailand.

  • Vietnam
    Di Vietnam, padi merupakan tanaman utama dalam sistem pertanian. Delta Mekong menjadi wilayah penghasil beras terbesar, dan produk beras Vietnam banyak diekspor serta diakui secara global.

Beras bukan sekadar sumber energi, tetapi juga bagian dari tradisi, budaya, dan bahkan identitas bangsa—dari semangkuk nasi hangat di rumah hingga simbol kesejahteraan di berbagai upacara adat.

 

Jagung

Jagung berasal dari Amerika Tengah dan pertama kali didomestikasi oleh suku Aztec dan Maya. Kini, jagung menjadi salah satu tanaman pangan terpenting di dunia. Amerika Serikat adalah produsen jagung terbesar, menyumbang lebih dari 40% produksi global. Negara lain seperti Tiongkok, Brasil, Meksiko, dan Argentina juga merupakan penghasil utama.

Jagung dikenal karena sifatnya yang serbaguna dan tahan lama, menjadikannya makanan pokok di berbagai wilayah. Di Meksiko, hampir semua hidangan tradisional berbasis jagung, terutama dalam bentuk tortilla jagung yang menjadi makanan sehari-hari masyarakat.

Jagung dapat dikonsumsi langsung dengan cara direbus atau dibakar, dan juga bisa dikeringkan lalu diolah menjadi tepung jagung. Selain menjadi bahan makanan, jagung juga digunakan dalam bentuk sirup jagung (pemanis buatan), minyak jagung, hingga bahan baku industri lainnya. Dari ladang kuno suku Maya hingga dapur modern di seluruh dunia, jagung telah menjadi bagian penting dari budaya dan ketahanan pangan global.

BACA JUGA: 3 Saus Terkenal Dunia yang Membentuk Cita Rasa Khas Global

3 Makanan Dunia yang Awalnya untuk Kelas Bawah, Kini Jadi Makanan Mewah

Tahukah kamu bahwa beberapa makanan mahal yang sering kita temui di restoran mewah sebenarnya berasal dari dapur-dapur sederhana? Dahulu, hidangan-hidangan ini dibuat sebagai makanan rakyat—murah, praktis, dan mengenyangkan.

Namun, seiring waktu, kombinasi cita rasa, teknik memasak yang semakin berkembang, dan kisah menarik di baliknya berhasil mengangkat status makanan ini. Dari yang awalnya dianggap biasa, kini mereka menjelma menjadi simbol kemewahan yang disajikan di meja-meja eksklusif. Berikut tiga makanan dunia yang dulunya untuk kalangan bawah, namun kini menjadi sajian berkelas dengan nilai yang tinggi.

 

Tiramisu

Siapa sangka, tiramisu—makanan penutup khas Italia yang kini identik dengan restoran mahal—dulunya adalah sajian sederhana yang terjangkau? Hidangan manis ini terbuat dari biskuit yang direndam dalam larutan kopi, disusun bersama krim keju berwarna putih, lalu ditaburi bubuk kakao di atasnya.

Berbeda dari kue pada umumnya, tiramisu tidak dibuat dari adonan, melainkan dari biskuit berlapis krim yang kemudian didinginkan di dalam lemari es agar padat dan tidak hancur saat disajikan. Menurut resep aslinya, tiramisu berbentuk bundar dan tidak mengandung rum atau minuman beralkohol khas Italia. Pasalnya, tiramisu awalnya disajikan untuk anak-anak dan orang tua sebagai sarapan pagi—ringan, bergizi, dan memberi energi.

Asal-usul tiramisu masih diperdebatkan, namun versi paling populer menyebutkan bahwa kue ini pertama kali dibuat di kota Treviso pada tahun 1970. Saat itu, tiramisu dibuat dari kuning telur dan dicampur dengan minuman berenergi, lalu disajikan sebagai makanan untuk para pekerja kasar agar tetap bertenaga sepanjang hari. Kini, tiramisu telah berevolusi menjadi simbol kemewahan kuliner dengan berbagai variasi modern, namun sejarahnya tetap mengingatkan kita bahwa makanan terbaik sering lahir dari kesederhanaan.

 

Lobster

Sulit dipercaya, tapi lobster—yang kini menjadi ikon kemewahan kuliner—dulunya dianggap makanan rendah derajat di pesisir Amerika Serikat. Saking melimpahnya, lobster kerap digunakan sebagai pupuk, pakan hewan, bahkan makanan bagi narapidana. Bentuknya yang dianggap kurang menarik serta reputasinya sebagai pemakan bangkai membuat lobster dipandang tidak layak menjadi sajian kelas atas.

Perubahan besar mulai terjadi pada abad ke-19, ketika perusahaan kereta api menyajikan lobster kalengan sebagai menu murah untuk para penumpang. Penumpang dari daerah pedalaman—yang belum pernah mendengar reputasi buruk lobster—ternyata menyukai rasanya. Dari sinilah awal mula perubahan persepsi terhadap lobster dimulai.

Selama masa Depresi Besar dan Perang Dunia II, lobster menjadi salah satu sumber protein utama karena ketersediaannya yang melimpah. Popularitasnya terus meningkat, hingga akhirnya setelah perang usai, lobster perlahan naik kelas—dari makanan rakyat menjadi simbol status. Kini, hidangan ini menjadi salah satu menu andalan di restoran mewah, dengan harga yang tidak lagi murah.

 

Sushi

Kini dikenal sebagai simbol kuliner Jepang yang elegan dan mahal, sushi sebenarnya berawal dari makanan rakyat biasa. Dulu, tak semua orang ingin menyantapnya—apalagi membayar mahal untuk sepiring kecil nasi dan ikan mentah. Sejarah mencatat, sushi pertama kali berkembang di Tiongkok sebagai metode pengawetan ikan menggunakan beras yang difermentasi. Setelah prosesnya selesai, beras dibuang, dan hanya ikannya yang dimakan. Rasa asam dari fermentasi menjadi ciri khasnya, dan dulunya, hidangan ini identik dengan kalangan miskin.

Setelah Perang Dunia II, sushi mulai mengalami transformasi. Teknik penyajiannya dimodifikasi, penggunaan ikan segar menggantikan fermentasi, dan tampilannya menjadi lebih estetis. Dari situlah lahir bentuk sushi modern yang kini kita kenal—tersaji rapi, eksklusif, dan hanya bisa dinikmati di restoran tertentu dengan harga yang tak murah.

BACA JUGA: Gandum, Beras, Jagung: Makanan Pokok Dunia dalam Perspektif Budaya

Etika Makan dari Berbagai Budaya yang Perlu Kalian Ketahui!

Bayangkan kamu sedang duduk di meja makan di negara asing. Makanannya tampak lezat, suasananya hangat dan menyenangkan—namun, satu gerakan kecil yang terlihat biasa saja di tempat asalmu bisa berubah menjadi kesalahan besar di sana. 

Setiap budaya memiliki aturan dan etika makan yang berbeda, yang mencerminkan nilai, sopan santun, dan cara mereka menghargai orang lain. Memahami perbedaan ini bukan hanya soal tata krama, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap budaya setempat. Ayo, kenali beragam etika makan dari berbagai belahan dunia yang penting untuk kita pahami sebelum duduk di meja makan internasional!

 

Sisakan Sedikit Makanan di Cina

Ketika kamu diundang makan di Indonesia, menghabiskan seluruh makanan di piring biasanya dianggap sebagai bentuk penghargaan kepada tuan rumah. Ini menunjukkan bahwa kamu menikmati hidangan yang disajikan dan menghargai usaha mereka. Kalau tidak, bisa-bisa kamu merasa sungkan, bukan?

Namun, etika makan ini berbeda di Tiongkok. Di sana, menghabiskan seluruh makanan di piring justru bisa dianggap sebagai tanda bahwa tuan rumah tidak menyajikan makanan yang cukup. Sebagai bentuk sopan santun, sebaiknya sisakan sedikit makanan di piring sebagai isyarat bahwa kamu telah kenyang dan puas.

 

Etika Makan di Belanda

Undangan makan malam di Belanda biasanya merupakan acara yang cukup formal. Karena itu, penting untuk mengenakan pakaian yang rapi dan menerapkan etika yang sesuai—terutama jika kamu diundang makan di rumah seseorang.

Sebagai bentuk sopan santun, bawalah cendera mata kecil seperti cokelat, buku, atau bunga berkualitas tinggi yang dibungkus dengan rapi. Jika memilih bunga, pastikan jumlahnya ganjil dan hindari angka 13, karena angka tersebut dianggap membawa kesialan.

Ada beberapa etika makan di Belanda yang sebaiknya kamu perhatikan. Misalnya, hindari memotong salad dengan pisau; sebagai gantinya, lipatlah salad menggunakan garpu. Setelah selesai makan, letakkan garpu dan pisau sejajar di sisi kanan piring sebagai tanda bahwa kamu telah selesai.

 

Menyeruput Makanan Ala Jepang

Bagi masyarakat Indonesia, mengeluarkan suara saat makan sering dianggap tidak sopan dan bisa mengganggu orang lain. Namun, di Jepang, hal ini justru merupakan hal yang wajar—bahkan dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap makanan.

Menyeruput makanan seperti sup, atau mengucapkan suara “ah” setelah suapan pertama, dipandang sebagai cara untuk menunjukkan rasa nikmat. Ini menjadi bentuk apresiasi kepada penyaji makanan, sekaligus tanda bahwa hidangan tersebut memiliki cita rasa yang lezat dan memuaskan.

Ada pula hal penting lain yang perlu kamu perhatikan saat makan di Jepang: hindari menancapkan sumpit secara vertikal ke dalam semangkuk nasi. Tindakan ini menyerupai tradisi pemakaman di Jepang, di mana nasi dengan sepasang sumpit ditancapkan disajikan sebagai persembahan bagi arwah. Karena itu, menancapkan sumpit ke nasi dianggap sangat tidak sopan, baik di rumah maupun di restoran.

BACA JUGA: Restoran yang Menyajikan Makanan Khas Vietnam Terbaik Yang Ada di Jakarta

Restoran yang Menyajikan Makanan Khas Vietnam Terbaik Yang Ada di Jakarta

Pencinta kuliner, pernahkah kamu membayangkan menikmati semangkuk pho hangat, banh mi yang renyah. Atau segelas kopi Vietnam yang kaya aroma—tanpa perlu terbang jauh ke Hanoi atau Saigon? Kabar baiknya, Jakarta punya banyak destinasi kuliner yang menyajikan cita rasa Vietnam autentik di setiap suapan.

Mulai dari restoran kasual yang nyaman hingga tempat makan bernuansa modern dan elegan. Semuanya siap memanjakan lidah dan membawa kamu seolah-olah sedang berada di jantung Vietnam. Berikut ini adalah deretan restoran Vietnam terbaik di Jakarta yang wajib kamu coba—dan tentu saja, masuk dalam daftar kunjungan kulinermu!

 

Pho Street

Restoran pertama yang bisa kamu kunjungi adalah Pho Street—tempat yang cocok untuk kamu yang ingin merasakan kehangatan. Dan cita rasa autentik khas Vietnam tanpa perlu jauh-jauh ke luar negeri. Pho Street memiliki dua hidangan andalan yang sangat populer. Yaitu Pho Beef Combination dan Banh Mi Combination. Pho Beef Combination merupakan sajian pho klasik—mi berkuah bening yang gurih, disajikan bersama irisan daging sapi, bakso, dan berbagai topping lainnya yang kaya rasa. Kuahnya yang aromatik dan rempahnya yang khas menjadikan hidangan ini favorit banyak pengunjung, terutama saat cuaca sedang dingin atau hujan.

Selain itu, ada juga Banh Mi Combination, roti lapis khas Vietnam yang bertekstur renyah di luar namun lembut di dalam. Isinya terdiri dari perpaduan daging ayam, grilled beef. Serta aneka sayuran segar seperti wortel, daun ketumbar, dan mentimun. Dilengkapi dengan saus khas yang membuat rasa banh mi di sini begitu otentik dan memikat.

Tak hanya menonjolkan rasa, Pho Street juga menawarkan suasana makan yang kasual dan nyaman—cocok untuk makan siang santai, kumpul bareng teman, atau sekadar melepas rindu akan cita rasa Vietnam.

 

Saigon delight

Jika kamu mencari rasa Vietnam yang autentik, Saigon Delight layak kamu kunjungi. Restoran ini menyajikan hidangan khas Negeri Naga Biru, mulai dari camilan hingga makanan utama. Salah satu menu favoritnya adalah pho, dengan kuah kaldu sapi yang gurih, daging empuk, dan porsi mengenyangkan. Banyak yang menyebut pho di sini sebagai salah satu yang terbaik di Jakarta.

Saigon Delight juga dikenal menggunakan bahan segar dari kebun organik milik sendiri dan mengklaim tidak menggunakan MSG—pas banget buat kamu yang mencari pilihan sehat tanpa kompromi rasa.

Restoran ini punya beberapa cabang, di antaranya: Mall of Indonesia, Grand Indonesia, Pondok Indah Mall 3, Gandaria City, The Bellagio Mall, dan Lippo Mall Kemang. Jadi, kamu bisa mencicipi kelezatan Vietnam kapan saja!

 

Do An Vietnamese Restaurant

Dengan sajian khas Vietnam yang lezat dan harga yang bersahabat, Do An Vietnamese Restaurant telah lama menjadi favorit pecinta kuliner di Jakarta. Selain menu andalan seperti phở dan banh mi, ada juga bò bóp thấu—salad daging sapi ala Vietnam yang segar dan menggugah selera.

Kamu bisa menemukan Do An di beberapa lokasi strategis di Jakarta, seperti Menteng, Kelapa Gading, dan Pondok Indah Mall. Cocok untuk kamu yang ingin menikmati hidangan Vietnam autentik tanpa harus jauh-jauh ke luar negeri!

BACA JUGA: 3 Makanan Dunia yang Awalnya untuk Kelas Bawah, Kini Jadi Makanan Mewah

3 Saus Terkenal Dunia yang Membentuk Cita Rasa Khas Global

Dari meja makan keluarga hingga dapur restoran bintang lima, saus bukan sekadar pelengkap—ia adalah roh dari sebuah hidangan. Setiap tetesnya mengandung cerita, budaya, bahkan jati diri suatu bangsa. Di antara ratusan jenis saus di seluruh dunia, ada beberapa yang begitu ikonik hingga melintasi batas negara dan disukai oleh banyak budaya. Berikut ini adalah tiga saus legendaris yang telah membentuk selera global dan menjadi simbol rasa yang mendunia.

 

Mayonnaise – Prancis

Mayones pertama kali diciptakan oleh seorang koki asal Prancis pada tahun 1756. Sejak saat itu, saus ini telah menjadi favorit di berbagai belahan dunia dan digunakan dalam banyak hidangan selama berabad-abad.

Dalam proses pembuatannya, jenis alat yang digunakan sangat berpengaruh. Idealnya, gunakan blender bertenaga tinggi agar bahan-bahan dapat tercampur sempurna. Jika menggunakan blender berukuran besar, Anda mungkin perlu memprosesnya sedikit lebih lama agar adonan mayones bersentuhan cukup lama dengan mata pisau dan dapat mengemulsi dengan baik.

Sebaliknya, food processor berukuran kecil seringkali lebih efisien untuk membuat mayones karena memungkinkan campuran tetap dekat dengan mata pisau. Selain itu, banyak orang juga berhasil membuat mayones secara manual menggunakan pengocok—baik elektrik maupun tangan. Namun, cara ini tentu membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra.

 

Tomato Ketchup – Amerika Serikat

Saus tomat adalah saus celup paling populer di dunia. Kita bisa menemukannya hampir di mana saja—mulai dari hamburger khas Jerman hingga omurice ala Jepang. Bagi saya, saus ini selalu jadi pilihan utama untuk teman keripik, nugget ayam, dan telur orak-arik.

Meski versi kemasan mudah ditemukan, saus tomat buatan sendiri jauh lebih sehat karena mengandung gula yang lebih rendah. Hanya saja, kekurangannya adalah daya tahannya yang tidak sepanjang versi pabrikan.

Menariknya, Anda bisa membuat satu porsi saus tomat hanya dalam lima menit, atau menjadikannya bahan dasar untuk saus barbekyu. Untuk hasil terbaik, gunakan bahan segar seperti bawang bombai, bawang putih, seledri, dan tomat saring. Semua bahan ini sebaiknya dimasak perlahan selama sekitar satu jam agar rasa yang dihasilkan lebih kaya dan seimbang.

Saus tomat menawarkan kombinasi ideal antara rasa, kemudahan, dan manfaat kesehatan. Sebagai catatan, pemerintah Israel pernah melarang produk saus tomat Heinz karena kandungan tomatnya yang rendah serta penggunaan sirup jagung fruktosa tinggi yang dianggap tidak sehat.

 

Agrodolce

Italia memang terkenal dengan saus berbahan dasar tomat, tetapi ada satu permata tersembunyi dalam tradisi kulinernya yang tak kalah menarik: agrodolce. Saus asam manis klasik ini dibuat dari perpaduan gula dan cuka, menciptakan keseimbangan rasa yang unik dan memikat.

Agrodolce sangat serbaguna—cocok digunakan sebagai glasir untuk hidangan daging, atau dipadukan dengan bahan seperti paprika, buah-buahan, rempah-rempah, dan sayuran musiman. Rasanya yang kompleks menjadikannya pelengkap ideal untuk berbagai jenis masakan, baik modern maupun tradisional.

BACA JUGA: Etika Makan dari Berbagai Budaya yang Perlu Kalian Ketahui!

Rekomendasi Restoran Chinese Terbaik di Jakarta Yang Menjadi Favorit Turis

Jakarta ini bukan hanya kota yang penuh dengan hiruk pikuk. Tetapi kota ini juga surga kuliner dengan ragam cita rasa dunia, dan salah satunya adalah masakan Chinese yang autentik. Mulai dari dim sum klasik hingga bebek Peking yang mewah. Restoran Chinese terbaik di Jakarta ini menjadi favorit bukan hanya warga lokal saja, tetapi juga para turis pecinta kuliner. Jika anda sedang berburu hidangan Chinese yang benar benar pantas untuk disantap sat di Jakarta. Kami akan memberikan sebuah Rekomendasi Restoran Chinese Terbaik di Jakarta Yang Menjadi Favorit Turis!

 

Cyrstal Jade

Crystal Jade, restoran ternama asal Singapura dengan lebih dari 80 outlet di dunia, kini resmi kembali hadir di Jakarta! Setelah sempat tutup permanen, restoran Chinese legendaris ini kembali dibuka pada September 2025 di bawah naungan GF Culinary Group. Mengusung konsep Hong Kong Kitchen yang lebih kasual, suasana restoran terasa hangat dan modern, cocok untuk santap bersama keluarga maupun rekan kerja.

Menu yang ditawarkan pun menggugah selera. Dari aneka Hong Kong dim sum, Crispy You Tiao Stuffed with Shrimp Paste, Braised Shredded Seafood with Superior Thick Soup. Hingga Sauteed Chinese Spinach with Prawn Paste & Fish Roe—semuanya tampil dengan cita rasa autentik.

 

Fat Wang

Sedang mencari sebuah restoran Chinese yang halal atau no pork anda no lard? Ayo cobain datang ke Fat Wang, meskipun hidangan yang disini tidak menggunakan babi. Tetapi cita rasa hidangan di sini sangat lezat dan variannya lengkap lohh. Mulai dari beraneka dimsum, cheong dan, roast chicken, roast duck, kwetiau, ifu mie, dan lain sebagainya.

Jika kamu datang kesini anda wajib cobain deh Cheesy Loaded Fries nya untuk menu pembukaan anda. Nahh untuk main course nya anda bisa coba Roast Duck with hainan dan Seafood Fried Rice with XO Sauce Rice. Dan jangan lupa yaa untuk memesan dessert nya sebagai makanan penutup yang lezat.

 

Claypot Popo

Rekomendasi Chinese foods selanjutnya di Jakarta yang wajib Anda coba adalah Claypot Popo, yang berlokasi di Jl. Melawai 9, No.38, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tempat makan ini menjadi favorit banyak pecinta kuliner karena menawarkan rasa autentik dengan harga yang terjangkau, menjadikannya pilihan tepat untuk menikmati hidangan Chinese tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Meski sederhana, suasana di Claypot Popo terasa nyaman dan homey. Pas untuk makan siang cepat atau santai bersama teman dan keluarga. Pilihan menunya pun cukup beragam, mulai dari olahan daging hingga telur, semua disajikan dalam claypot panas yang menggugah selera.

Beberapa menu andalan yang patut Anda coba antara lain: Claypot Sapi Cah Bawang Putih dengan aroma gurih menggoda, Claypot Siram Telur Mentah yang creamy dan kaya rasa, serta Claypot Dadar Caipoh yang unik dengan sentuhan asin-manis dari lobak asin. Perpaduan rasa yang khas dan porsi yang pas membuat pengalaman makan di sini benar-benar memuaskan.

BACA JUGA: 3 Makanan Yang Mempunyai Bau Tak Sedap,Tapi Disukai di Negara Asalnya