
Makanan bukan hanya sekadar pemenuh kebutuhan hidup, melainkan juga refleksi sejarah, identitas, dan tradisi dari suatu bangsa. Di berbagai penjuru dunia, sejumlah tradisi kuliner telah mendapatkan pengakuan resmi dari UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda karena nilai budaya, filosofi hidup, serta teknik memasaknya yang diwariskan secara turun-temurun.
Dari ritual memasak yang sakral, teknik pengolahan khas, hingga tradisi makan bersama yang mempererat ikatan sosial. Setiap makanan membawa cerita tentang asal-usul, nilai, dan cara hidup suatu komunitas. Menjelajahi daftar kuliner yang diakui UNESCO sama dengan menyelami warisan peradaban yang hidup melalui rasa dan pengalaman. Setiap suapan bukan hanya soal rasa, tapi juga jejak sejarah dan kebudayaan yang terus dijaga lintas generasi.
Washoku
Washoku adalah istilah untuk kuliner tradisional Jepang yang menekankan keseimbangan rasa, kesehatan, dan kelezatan. Sejak tahun 2013, washoku telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Mencerminkan filosofi makan yang kaya nilai budaya dan spiritual.
Washoku menggabungkan lima rasa utama (manis, asin, asam, pahit, dan umami). Lima elemen alam (air, api, tanah, kayu, dan logam). Serta lima teknik memasak (mengukus, merebus, menggoreng, memanggang, dan menyajikan mentah). Setiap hidangan juga disesuaikan dengan musim, bahan lokal. Dan disajikan dengan estetika yang tinggi, menjadikan washoku bukan hanya makanan, tapi sebuah seni dan tradisi yang hidup.
Roti Baguette Prancis
Baguette bukan sekadar roti, melainkan simbol budaya Prancis yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sejak masa pemerintahan Raja Louis XIV di abad ke-18. Dipanggang segar setiap hari di toko roti tradisional atau boulangeries. Baguette hampir selalu hadir dalam setiap hidangan, dari sarapan hingga makan malam.
Baguette yang “sempurna” memiliki panjang sekitar 65 sentimeter dengan kulit luar yang renyah dan isi yang lembut. Uniknya, Baguette de Tradition Française hanya menggunakan empat bahan sederhana: tepung gandum, air, ragi, dan garam—tanpa tambahan bahan kimia atau pengawet.
Harissa
Harissa adalah pasta cabai pedas khas Afrika Utara, terutama dari Tunisia, yang dibuat dari cabai merah panggang, lada Baklouti, lada serrano, aneka rempah-rempah, dan herbal lokal. Campuran ini mencerminkan warisan kuliner yang mengikuti kalender pertanian tradisional di kawasan tersebut.
Tak hanya soal rasa, Harissa diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda karena mewakili pengetahuan, keterampilan, dan praktik kuliner serta sosial unik masyarakat Afrika Utara. Tak heran jika hidangan ini menarik minat banyak turis kuliner global setiap tahun, yang ingin mencicipi cita rasa autentik dari budaya yang kaya.
BACA JUGA: Apa Sih Itu Umami? Rasa Ke-5 yang Mengubah Dunia Kuliner
Leave a Reply