
Pontianak dikenal sebagai kota dengan perpaduan budaya yang kaya. Dan salah satu wujud paling menonjolnya terlihat dalam keragaman kuliner. Pengaruh budaya Tionghoa yang telah berakar kuat selama bertahun-tahun menghadirkan deretan hidangan khas dengan cita rasa unik. Hasil perpaduan antara bumbu lokal dan teknik memasak Chinese yang khas. Harmoni ini tercermin dalam berbagai sajian yang tidak hanya lezat. Tetapi juga merepresentasikan perjalanan sejarah dan akulturasi budaya di Kota Khatulistiwa.
Mulai dari hidangan berkuah hangat hingga camilan legendaris. Kuliner khas Pontianak dengan sentuhan Tionghoa selalu berhasil menggugah selera. Rasa autentik yang ditawarkan tidak hanya memuaskan lidah, tetapi juga menyimpan cerita tentang percampuran budaya yang memperkaya identitas kuliner kota ini. Tak heran jika makanan-makanan seperti choi pan, kwetiau sapi, hingga bakmie khas Pontianak begitu dicintai oleh masyarakat lokal maupun para pelancong.
Chai Kue
Makanan khas Pontianak yang pertama adalah chai kwe, atau dikenal juga dengan nama choi pan. Hidangan ini merupakan hasil akulturasi budaya antara masyarakat lokal Pontianak dan etnis Tionghoa, dengan bentuk yang sekilas mirip seperti pastel. Meski terinspirasi dari makanan tradisional Tionghoa, chai kwe tetap aman dan halal untuk dikonsumsi. Karena tidak menggunakan bahan non-halal seperti daging babi. Camilan ini menjadi simbol keberagaman budaya yang bersatu melalui kuliner.
Isian chai kwe terdiri dari berbagai sayuran segar seperti kucai, daun bawang, kacang, rebung, talas, dan bengkoang. Adonannya bisa diolah dengan dua cara: dikukus atau digoreng, tergantung selera. Saat disajikan, chai kwe akan diberi taburan bawang putih goreng yang harum serta disertai dengan saus sambal sebagai cocolan, menghasilkan kombinasi rasa gurih, manis, dan sedikit pedas yang menggugah selera.
Lek Tau Suan (Bubur Gunting)
Lek tau suan adalah salah satu makanan khas Pontianak yang berasal dari pengaruh budaya Tionghoa, dan dibuat dari kacang hijau kupas (tanpa kulit). Dalam proses pembuatannya, hidangan ini sekilas mirip dengan bubur kacang hijau, namun menggunakan teknik dan bahan yang sedikit berbeda. Kacang hijau kupas direndam dalam air selama beberapa jam untuk melunakkannya, lalu disangrai bersama gula di atas api kecil hingga mengeluarkan aroma harum dan sedikit karamelisasi.
Untuk kuahnya, digunakan rebusan air gula dan daun pandan yang dicampur dengan air sagu sebagai pengental. Kacang hijau yang telah disangrai kemudian dimasak kembali bersama kuah hingga teksturnya mengental. Namun tetap menjaga bentuk kacang agar tidak hancur. Hidangan ini biasanya disajikan dalam keadaan hangat, dan semakin nikmat saat dinikmati dengan tambahan potongan cakwe—roti goreng khas Tiongkok yang gurih dan renyah, menciptakan perpaduan tekstur lembut dan garing yang sangat memanjakan lidah.
Kiam Ko Kwe
Kiam ko kwe adalah salah satu jajanan tradisional khas Pontianak yang memiliki tekstur lembut dan rasa gurih. Terbuat dari tepung beras yang dipadukan dengan tepung sagu atau kanji, adonan jajanan ini dimasak bersama air dan minyak sayur hingga mengental. Setelah mencapai tekstur yang tepat, adonan kemudian dituangkan ke dalam loyang, didiamkan hingga mengeras, lalu dipotong-potong menjadi bentuk siap saji. Sekilas, tampilannya mirip dengan kue talam, namun dengan rasa dan penyajian yang berbeda.
Keunikan kiam ko kwe terletak pada topping-nya. Biasanya disajikan dengan tumisan ebi, irisan kucai, talas, dan taburan bawang putih goreng yang memberikan aroma khas yang menggugah selera. Rasanya yang gurih, berpadu dengan tekstur kenyal dan aroma wangi dari bumbu-bumbunya, membuat jajanan ini sangat cocok disantap di sore hari sebagai camilan hangat yang mengenyangkan dan penuh cita rasa lokal.
BACA JUGA: Restoran Terbaik yang Bisa Anda Kunjungi Di Pontianak Dijamin Ketagihan
Leave a Reply