
Kesegaran adalah elemen paling penting dalam kuliner Jepang, terutama ketika berbicara tentang hidangan berbahan dasar ikan. Mulai dari irisan sashimi yang lembut hingga sushi dengan cita rasa alami yang menonjol. Setiap sajian dirancang untuk menampilkan kualitas ikan terbaik. Tak heran jika hidangan ikan khas Jepang selalu disajikan dalam kondisi segar. Menghadirkan rasa yang autentik, ringan, bersih, dan benar-benar memanjakan lidah sejak gigitan pertama. Perpaduan antara rasa alami dan teknik penyajian yang presisi membuat pengalaman bersantap menjadi begitu istimewa.
Kesegaran dalam kuliner Jepang bukan sekadar soal bahan baku, tetapi juga mencerminkan filosofi hidup. Yang menekankan keharmonisan antara alam, rasa, dan estetika. Setiap elemen—mulai dari suhu, ketebalan potongan, hingga cara penyajian. Berperan penting dalam menciptakan sajian yang seimbang dan menghormati cita rasa asli dari bahan utamanya. Menikmati sashimi atau sushi yang disiapkan dengan ikan segar bukan hanya soal kenikmatan lidah. Tetapi juga pengalaman budaya yang mengajarkan kita untuk menghargai kesederhanaan, ketelitian, dan kualitas dalam setiap detail.
Sushi
Siapa yang tidak mengenal sushi? Makanan berbahan dasar nasi dan nori ini telah menjadi salah satu ikon kuliner Jepang yang paling populer di dunia. Dikenal luas karena cita rasanya yang khas dan penyajiannya yang elegan, sushi hadir dalam berbagai bentuk dan kombinasi bahan. Meskipun variasinya beragam, sushi berbahan dasar ikan tetap menjadi favorit banyak orang berkat kelezatan dan kesegarannya.
Beberapa jenis ikan yang umum digunakan dalam sushi antara lain salmon, makarel, tuna, dan unagi. Ditambah berbagai jenis ikan lainnya yang tak kalah lezat. Selain itu, banyak juga varian sushi yang disajikan dengan topping telur ikan seperti tobiko atau ikura, yang menambah sensasi rasa serta tekstur unik dalam setiap gigitan. Kombinasi bahan-bahan segar dan cara penyajian yang presisi menjadikan sushi tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menghadirkan pengalaman bersantap yang autentik dan berkelas.
Tekkadon
Tekkadon adalah salah satu hidangan Jepang yang sederhana namun memikat. Terdiri dari nasi cuka yang dikukus dan disajikan dengan potongan tuna mentah ala sashimi di atasnya. Hidangan ini biasanya dihiasi dengan potongan rumput laut nori dan irisan daun bawang. Serta disajikan bersama saus kedelai di sampingnya sebagai pelengkap rasa. Perpaduan antara nasi yang lembut dan tuna segar memberikan sensasi makan yang ringan namun tetap memuaskan.
Istilah tekkadon kadang digunakan secara bergantian dengan maguro zuke don. Yang merupakan versi serupa namun menggunakan potongan tuna yang telah diasinkan dan umumnya disajikan tanpa saus celup tambahan. Kedua hidangan ini termasuk dalam kelompok donburi. Yaitu sajian nasi dalam mangkuk yang diberi topping beragam. Karena cita rasanya yang bersih dan ringan, tekkadon sering dinikmati sebagai hidangan utama yang sederhana namun elegan, cocok bagi pecinta sashimi yang menginginkan sajian praktis dengan rasa autentik Jepang.
Fuguchiri
Uguchiri atau tecchiri adalah salah satu olahan khas Jepang berbahan dasar ikan fugu (ikan buntal) yang disajikan dalam bentuk hot pot. Dalam satu penyajian, daging ikan buntal biasanya dimasak bersama beragam sayuran segar, telur, dan nasi hangat sebagai pelengkap. Hidangan ini tidak hanya menawarkan cita rasa yang lembut dan hangat, tetapi juga pengalaman unik yang menggambarkan kehati-hatian dan keahlian dalam mengolah salah satu bahan paling ikonik dalam kuliner Jepang.
Menariknya, kata “chiri” pada nama olahan ini berasal dari suara khas yang muncul saat daging ikan buntal direbus dalam kuah kaldu. Uniknya lagi, kuah kaldu yang digunakan dalam fuguchiri bisa dibuat dari berbagai jenis kaldu, tergantung preferensi, seperti kaldu ayam, sayur, atau kombu (rumput laut). Fleksibilitas inilah yang menjadikan uguchiri tidak hanya lezat, tetapi juga bisa disesuaikan dengan selera sambil tetap menjaga esensi rasa khas dari fugu itu sendiri.
BACA JUGA: Sejarah Awal Mula Munculnya Jajanan Khas Bandung, Batagor
Leave a Reply