Pernahkah kita berpikir, bahwa semangkuk mi sederhana yang kita nikmati hari ini menyimpan sejarah panjang yang luar biasa? Dari dapur-dapur tradisional di Asia hingga menjadi sajian favorit di berbagai penjuru dunia. Mi telah menempuh perjalanan melintasi waktu, budaya, dan benua.

Sejarah kehadiran mi di panggung kuliner global bukan sekadar soal makanan—ini adalah kisah tentang pertemuan antarperadaban, jalur perdagangan kuno. Hingga inovasi manusia yang tak pernah berhenti bereksperimen. Tak heran, jika hari ini mi menjadi simbol kuliner lintas budaya yang menyatukan selera di meja makan dunia.

 

Awal Mula Mie

Mie ternyata telah hadir sejak sekitar 4.000 tahun lalu di Tiongkok. Penemuan arkeologis di Lajia, Provinsi Qinghai, mengungkapkan sebuah mangkuk berisi mi yang terbuat dari millet. Sejenis biji-bijian yang umum digunakan di Tiongkok kuno.

Meski sudah dikenal sejak ribuan tahun silam, mi baru mulai menembus pasar global ketika jalur perdagangan seperti Jalur Sutra membuka koneksi antarwilayah dan peradaban.

Dalam catatan sejarah, banyak yang mengaitkan penyebaran mi ke Eropa dengan kisah Marco Polo. Namun, para sejarawan mencatat bahwa pasta Italia sebenarnya sudah ada sebelum masa perjalanannya. Apa pun asal-usul pastinya, satu hal yang tak terbantahkan: hari ini, mi telah menjelma menjadi salah satu makanan paling populer dan dicintai di berbagai belahan dunia.

 

Berbagai Jenis Mie di Setiap Negara

Mi bukan sekadar makanan—di banyak negara, ia adalah simbol budaya dan tradisi kuliner yang terus hidup hingga kini. Setiap wilayah memiliki ciri khasnya sendiri, mencerminkan bahan lokal, teknik memasak. Dan nilai budaya yang melekat pada setiap mangkuk mi yang disajikan.

 

  • Tiongkok: Lamian, mi yang dibuat dengan tangan dan ditarik hingga lentur, menawarkan tekstur kenyal yang khas. Sementara itu, Mi Xian dari Yunnan berbahan dasar beras, bertekstur halus dan biasanya disajikan dalam kaldu ringan yang menyegarkan.

  • Jepang: Mi hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari ramen dengan kuah gurih yang kompleks, udon yang tebal dan kenyal, hingga soba dari tepung buckwheat yang dikenal menyehatkan. Mi di Jepang bukan hanya makanan, tapi juga bagian dari ritual dan musim, seperti soba yang disantap saat pergantian tahun.

  • Italia: Pasta adalah bentuk mi paling ikonik dari dunia Barat. Jenis seperti spaghetti, fettuccine, dan linguine disajikan dengan beragam saus, dari tomat hingga keju, menjadikannya makanan rumahan yang melekat erat dalam kehidupan sehari-hari orang Italia.

  • Korea Selatan: Ramyeon yang pedas dan penuh rasa adalah favorit banyak orang, sementara japchae—mi bening dari ubi jalar yang ditumis dengan sayur dan daging—biasanya hadir dalam perayaan dan acara keluarga, menambah nuansa istimewa di tiap sajian.

  • Vietnam: Pho adalah sajian mi beras yang disajikan dengan kaldu sapi atau ayam yang kaya rempah. Kombinasi rasa gurih, pedas, dan asam menjadikan pho sebagai ikon kuliner Vietnam yang mendunia dan menggugah selera siapa pun yang mencicipinya.

  • Indonesia: Dari Mie Ayam hingga Bakmi, mi sudah menjadi makanan yang sangat akrab di lidah masyarakat. Mi instan seperti Indomie bahkan telah melampaui batas geografis, dikenal luas di berbagai negara sebagai simbol kuliner praktis yang kaya rasa

BACA JUGA: Rekomendasi Restoran yang Menyajikan Hidangan Khas Jepang Terbaik di Jakarta