Tahukah kamu bahwa beberapa makanan mahal yang sering kita temui di restoran mewah sebenarnya berasal dari dapur-dapur sederhana? Dahulu, hidangan-hidangan ini dibuat sebagai makanan rakyat—murah, praktis, dan mengenyangkan.

Namun, seiring waktu, kombinasi cita rasa, teknik memasak yang semakin berkembang, dan kisah menarik di baliknya berhasil mengangkat status makanan ini. Dari yang awalnya dianggap biasa, kini mereka menjelma menjadi simbol kemewahan yang disajikan di meja-meja eksklusif. Berikut tiga makanan dunia yang dulunya untuk kalangan bawah, namun kini menjadi sajian berkelas dengan nilai yang tinggi.

 

Tiramisu

Siapa sangka, tiramisu—makanan penutup khas Italia yang kini identik dengan restoran mahal—dulunya adalah sajian sederhana yang terjangkau? Hidangan manis ini terbuat dari biskuit yang direndam dalam larutan kopi, disusun bersama krim keju berwarna putih, lalu ditaburi bubuk kakao di atasnya.

Berbeda dari kue pada umumnya, tiramisu tidak dibuat dari adonan, melainkan dari biskuit berlapis krim yang kemudian didinginkan di dalam lemari es agar padat dan tidak hancur saat disajikan. Menurut resep aslinya, tiramisu berbentuk bundar dan tidak mengandung rum atau minuman beralkohol khas Italia. Pasalnya, tiramisu awalnya disajikan untuk anak-anak dan orang tua sebagai sarapan pagi—ringan, bergizi, dan memberi energi.

Asal-usul tiramisu masih diperdebatkan, namun versi paling populer menyebutkan bahwa kue ini pertama kali dibuat di kota Treviso pada tahun 1970. Saat itu, tiramisu dibuat dari kuning telur dan dicampur dengan minuman berenergi, lalu disajikan sebagai makanan untuk para pekerja kasar agar tetap bertenaga sepanjang hari. Kini, tiramisu telah berevolusi menjadi simbol kemewahan kuliner dengan berbagai variasi modern, namun sejarahnya tetap mengingatkan kita bahwa makanan terbaik sering lahir dari kesederhanaan.

 

Lobster

Sulit dipercaya, tapi lobster—yang kini menjadi ikon kemewahan kuliner—dulunya dianggap makanan rendah derajat di pesisir Amerika Serikat. Saking melimpahnya, lobster kerap digunakan sebagai pupuk, pakan hewan, bahkan makanan bagi narapidana. Bentuknya yang dianggap kurang menarik serta reputasinya sebagai pemakan bangkai membuat lobster dipandang tidak layak menjadi sajian kelas atas.

Perubahan besar mulai terjadi pada abad ke-19, ketika perusahaan kereta api menyajikan lobster kalengan sebagai menu murah untuk para penumpang. Penumpang dari daerah pedalaman—yang belum pernah mendengar reputasi buruk lobster—ternyata menyukai rasanya. Dari sinilah awal mula perubahan persepsi terhadap lobster dimulai.

Selama masa Depresi Besar dan Perang Dunia II, lobster menjadi salah satu sumber protein utama karena ketersediaannya yang melimpah. Popularitasnya terus meningkat, hingga akhirnya setelah perang usai, lobster perlahan naik kelas—dari makanan rakyat menjadi simbol status. Kini, hidangan ini menjadi salah satu menu andalan di restoran mewah, dengan harga yang tidak lagi murah.

 

Sushi

Kini dikenal sebagai simbol kuliner Jepang yang elegan dan mahal, sushi sebenarnya berawal dari makanan rakyat biasa. Dulu, tak semua orang ingin menyantapnya—apalagi membayar mahal untuk sepiring kecil nasi dan ikan mentah. Sejarah mencatat, sushi pertama kali berkembang di Tiongkok sebagai metode pengawetan ikan menggunakan beras yang difermentasi. Setelah prosesnya selesai, beras dibuang, dan hanya ikannya yang dimakan. Rasa asam dari fermentasi menjadi ciri khasnya, dan dulunya, hidangan ini identik dengan kalangan miskin.

Setelah Perang Dunia II, sushi mulai mengalami transformasi. Teknik penyajiannya dimodifikasi, penggunaan ikan segar menggantikan fermentasi, dan tampilannya menjadi lebih estetis. Dari situlah lahir bentuk sushi modern yang kini kita kenal—tersaji rapi, eksklusif, dan hanya bisa dinikmati di restoran tertentu dengan harga yang tak murah.

BACA JUGA: Gandum, Beras, Jagung: Makanan Pokok Dunia dalam Perspektif Budaya