
Bayangkan kamu sedang duduk di meja makan di negara asing. Makanannya tampak lezat, suasananya hangat dan menyenangkan—namun, satu gerakan kecil yang terlihat biasa saja di tempat asalmu bisa berubah menjadi kesalahan besar di sana.
Setiap budaya memiliki aturan dan etika makan yang berbeda, yang mencerminkan nilai, sopan santun, dan cara mereka menghargai orang lain. Memahami perbedaan ini bukan hanya soal tata krama, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap budaya setempat. Ayo, kenali beragam etika makan dari berbagai belahan dunia yang penting untuk kita pahami sebelum duduk di meja makan internasional!
Sisakan Sedikit Makanan di Cina
Ketika kamu diundang makan di Indonesia, menghabiskan seluruh makanan di piring biasanya dianggap sebagai bentuk penghargaan kepada tuan rumah. Ini menunjukkan bahwa kamu menikmati hidangan yang disajikan dan menghargai usaha mereka. Kalau tidak, bisa-bisa kamu merasa sungkan, bukan?
Namun, etika makan ini berbeda di Tiongkok. Di sana, menghabiskan seluruh makanan di piring justru bisa dianggap sebagai tanda bahwa tuan rumah tidak menyajikan makanan yang cukup. Sebagai bentuk sopan santun, sebaiknya sisakan sedikit makanan di piring sebagai isyarat bahwa kamu telah kenyang dan puas.
Etika Makan di Belanda
Undangan makan malam di Belanda biasanya merupakan acara yang cukup formal. Karena itu, penting untuk mengenakan pakaian yang rapi dan menerapkan etika yang sesuai—terutama jika kamu diundang makan di rumah seseorang.
Sebagai bentuk sopan santun, bawalah cendera mata kecil seperti cokelat, buku, atau bunga berkualitas tinggi yang dibungkus dengan rapi. Jika memilih bunga, pastikan jumlahnya ganjil dan hindari angka 13, karena angka tersebut dianggap membawa kesialan.
Ada beberapa etika makan di Belanda yang sebaiknya kamu perhatikan. Misalnya, hindari memotong salad dengan pisau; sebagai gantinya, lipatlah salad menggunakan garpu. Setelah selesai makan, letakkan garpu dan pisau sejajar di sisi kanan piring sebagai tanda bahwa kamu telah selesai.
Menyeruput Makanan Ala Jepang
Bagi masyarakat Indonesia, mengeluarkan suara saat makan sering dianggap tidak sopan dan bisa mengganggu orang lain. Namun, di Jepang, hal ini justru merupakan hal yang wajar—bahkan dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap makanan.
Menyeruput makanan seperti sup, atau mengucapkan suara “ah” setelah suapan pertama, dipandang sebagai cara untuk menunjukkan rasa nikmat. Ini menjadi bentuk apresiasi kepada penyaji makanan, sekaligus tanda bahwa hidangan tersebut memiliki cita rasa yang lezat dan memuaskan.
Ada pula hal penting lain yang perlu kamu perhatikan saat makan di Jepang: hindari menancapkan sumpit secara vertikal ke dalam semangkuk nasi. Tindakan ini menyerupai tradisi pemakaman di Jepang, di mana nasi dengan sepasang sumpit ditancapkan disajikan sebagai persembahan bagi arwah. Karena itu, menancapkan sumpit ke nasi dianggap sangat tidak sopan, baik di rumah maupun di restoran.
BACA JUGA: Restoran yang Menyajikan Makanan Khas Vietnam Terbaik Yang Ada di Jakarta
Leave a Reply